Karangtaruna Melalui Program CSR PT MUJ Atasi Sampah Pasar Tradisional yang Miliki Nilai Ekonomis

BANDUNG BARAT (WARTA BANDUNG BARAT), – Anggota DPRD Jawa Barat Edi Rusyandi mengapresiasi program CSR (Corporate Social Responsibility) yang dilaksanakan PT Migas Hulu Jabar (MUJ) dalam pengelolaan sampah di Desa Bongas, Cililin, Kabupaten Bandung Barat.

“Ini bentuk bentuk program (CSR) yang tepat sasaran. Karena di lokasi yang tepat, dikelola secara tepat dan bisa bermanfaat bagi masyarakat terutama dalam mengatasi masalah akut sampah”, kata Edi Rusyandi saat meninjau lokasi Kantor Maggot Cililin, pada Rabu, 24 Februari 2021.

Kantor Maggot Cililin atau Kamagoci ini dikelola oleh kelompok Karangtaruna Bangkit Desa Bongas Cililin dengan mengelola sampah organik dari pasar dan warga sekitar, kemudian diolah menjadi maggot yang dapat digunakan menjadi pakan alternatif ikan dan ternak.

Edi juga menjelaskan bahwa program CSR yang benar adalah program yang bisa mengatasi masalah penanganan sampah yang pengelolaannya bisa berdampak manfaat bagi masyarakat.

“CSR yang benar itu yang bisa mengatasi masalah dan berdampak manfaat bagi masyarakat. Penanganan sampah pasar ini soal krusial yang belum terkelola dengan baik oleh pemerintah daerah setempat”, tutur Sekretaris Fraksi Partai Golkar ini.

Selain itu, Edi berharap penggunaan Maggot dalam pengelolaan sampah ini bisa ditularkan di tempat lainnya di Wilayah Bandung Barat.

Menurutnya, Kamagoci bisa menjadi model pengelolaan sampah untuk wilayah Bandung hingga ke depannya.

Sementara itu, dikutip dari beritaradio.com, Ketua Kamagoci Asep Bunyamin mengatakan kegiatannya ini bermula atas keprihatinannya terhadap tumpukan sampah pasar yang jarang diangkut oleh Pemda dan dibuang di seputar pemukiman warga.

“Sampah ini biasanya baru diangkut oleh petugas Dinas satu atau dua tahun kemudian. Sehingga, menumpuk dan baunya menyengat di sekitaran pemukiman warga”, ujarnya.

Oleh sebab itu, bersama dengan para pemuda Karangtaruna setempat, Asep berinisiatif mengadakan pelatihan pengolahan sampah organik dengan metode maggot bekerjasama dengan Ganesha enterpreneur ITB.

Pelatihan pengelolaan sampah itu mendapat respons positif dari warga. Tidak hanya sebatas respons, bahkan warga pun turut mengolah sampah secara mandiri dari sampah organik.

“Alhamdulillaah masalah sampah pasar ini bisa kita atasi. Dan kita mendapat dukungan BUMD Jabar PT MUJ berupa CSR. Ini sangat membantu. Kita pergunakan membangun tempat pengolahan, penyediaan mesin pencacah dan rak bikonversi”, tutur Asep.

Siapa sangka bahwa sumber sampah dari pasar yang diolah oleh Maggot ini masih kurang bahkan setelah mendapatkan dukungan program CSR tersebut.

Oleh karena itu, melalui Kamagoci ini dirinya akan berekspansi mengangkut dari pasar lainnya yang belum terkelola. Hanya saja, masih terkendala alat mobilisasi.

Asep optimis, jika pemerintah juga BUMD dan swasta serius mengembangkan budidaya maggot untuk pengelolaan sampah, permasalahan sampah beserta dampak sosial lingkungan yang selama ini belum teratasi bisa jadi solusinya.

Asep juga menjelaskan, nilai manfaat pengolahan sampah dengan penggunaan maggot ini bukan hanya bermanfaat secara ekologis, tapi juga punya nilai ekonomis.

Hingga saat ini, produksi maggot yang telah dihasilkan oleh Kamagoci per hari sebanyak fresh maggot 30 kg, pupa 3 kg, telur 15-20 gram.

“Maggot yang kita hasilkan bisa kita jual untuk pakan ternak dan ikan. Sisa sampahnya bisa kita gunakan untuk pupuk” pungkasnya.

Sumber : https://wartabandungbarat.com/kbb/karangtaruna-melalui-program-csr-pt-muj-atasi-sampah-pasar-tradisional-yang-miliki-nilai-ekonomis-DinVvxyTCgbM

Tinggalkan Balasan